Dalam kedamaian suara takbir yang bersahutan mengiringi malam 10 Dhulhijah, kita diingatkan pada kisah cinta sejati. Cinta yang luar biasa dan tertanam pada diri seorang hamba kekasih Allah, yaitu Nabi Ibrahim as. Kita mengenal Nabi Ibrahim sebagai pribadi yang cerdas. Setelah melalui proses pencarian Tuhan sampai akhirnya Nabi Ibrahim benar-benar menyakini keberadaan Allah, beliau mendapat banyak ujian. Rupanya beliau menyakini Allah sebagai Tuhan Pencipta Alam tidak sekedar hanya dengan kata, tetapi dengan cinta yang tertanam pada jiwanya.
Ketika beliau bahagia dengan kehadiran Ismail, putranya yang telah lama dinanti, Allah mendatangkan mimpi yang memerintahkan beliau untuk menyembelih Ismail. Alangkah hebatnya gejolak Nabi Ibrahim sebagai seorang ayah ketika harus menyembelih putranya sendiri!
“Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku sesungguhnya aku melihat di dalam mimpi, aku menyembelihmu, maka bagaimana pendapatmu. ” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku kerjakanlah yang diperintahkan Tuhanmu. Insya Allah engkau mendapatiku sebagai orang-orang yang sabar.” (QS. ash-Shaffat: 102)
Ismail tahu bahwa pelaksanaan perintah Tuhan berarti menyerahkan dirinya untk disembelih. Akan tetapi, ternyata dia bersabar dan justru menenangkan ayahnya untuk menunjukkan kecintaan kepada Allah. Akhirnya Nabi Ibrahim memutuskan untuk menjalankan wahyu mimpi yang tidak masuk akal tersebut. Tingkat keyakinan yang begitu tinggi kepada Allah akan diiringi rasa cinta yang besar pula. Lebih besar dari segala cinta yang lain dan hanya mendedikasikan cinta yang lain kepada Allah. Itulah yang membuat Nabi Ibrahim mengorbankan apapun yang dimiliki dan apapun yang bisa dilakukannya untuk Allah semata. Begitu pula Ismail, dia termasuk ke dalam orang yang sabar.
Pada akhirnya kita menyadari Allah Maha Pengasih dan Maha Bijaksana. Allah tidak membuat Nabi Ibrahim kehilangan putranya karena Ismail ditebus dengan seekor sembelihan yang besar..
Jika kita mencintai Allah dengan pengorbanan yang sungguh-sungguh, Allah akan membalas dengan karunia yang besar. Allah hanya menguji cinta kita. Allah tidak mungkin membuat hambanya menjadi menderita, melainkan akan menaikkan level ketakwaannya. Subhanallah, indahnya rasa bila kita mampu mencintai Allah. Sungguh, hamba yang beruntung yang benar-benar bisa mencintai Allah, yaitu mereka mendedikasikan semuanya kepada-Nya sebagai bentuk pengorbanan cinta.
