Di akhir tahun 2008 kakak senior saya di Universitas, Ardiansyah, mengajak saya menuliskan target-target yang ingin dicapai di tahun 2009. Namanya TARGETAN 2009. Saya setuju dan menuliskan target per bulan. Saya menuliskan banyak hal, salah satunya bahwa saya ingin memiliki suatu bisnis di pertengahan tahun 2009. Saya berencana tidak akan mengambil Semester Pendek pada liburan Juni-Agustus, tetapi saya akan menjalankan sebuah bisnis.
Pada akhir Januari, saya pesimis dengan target yang saya buat sendiri. Seingat saya, target bahwa saya akan menjalankan sebuah bisnis mulai pertengahan tahun saya hapus dari list. Saya pikir tidak relistis. Saya tadinya ingin bisnis laundry yang unik (plus delivery ke customer). Saya mengenal bu Kokom yang mencucikan baju saya di Asrama. Langganan bu Kokom sedikit, padahal cuciannya bersih dan saya tak perlu repot pergi ke tempat laundry karena bu Kokom akan mengambil baju saya di depan pintu setiap pagi. Saya ingin kerja sama dengan bu Kokom. Saya berencana mengontrak suatu rumah dan membeli mesin cuci dan sebagainya. Saya juga membuat konsep berbeda dengan laundry yang ada, misalnya dengan jaminan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) bagi karyawan saya. Ini juga terinspirasi tugas kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia saya yang selalu menjadikan sebuah laundry di USA sebagai studi kasus. Tetapi saya malas mencari dana dihadapkan pada kebutuhan modal awal yang butuh beberapa juta. Ketika saya telepon ibu saya, beliau bilang, “Mau bisnis apa? Nggak usah, kamu orangnya pemalas dan nggak konsisten berbisnis.” Pupuslah target saya. Begitu saja saya menyerah pada rencana bisnis laundry saya.
Saya juga pernah menargetkan akan berlatih berjualan sesuatu bersama teman saya, Famella. Latihan berjualan? Yap, pada semester genap (Februari-Mei) kami berdua akan mengambil mata kuliah marketing (Pengembangan dan Pemasaran Produk). Hmm, saya tidak mau mendapat ilmu dari sekedar membaca, diskusi ataupun mendengar dari dosen sekalipun dosennya hebat. Saya ingin mencari dan merasakan ilmu. Teman saya Femi (nickname Famella) adalah partner yang menyenangkan untuk berpetualang mencari ilmu marketing. Akhirnya kami memutuskan untuk berjualan kue di Asrama. Ini tentu juga kami jadikan kegiatan hiburan di sela-sela kuliah dan apabila menguntungkan akan mengimbangi biaya hidup kami.
Alkisah, di suatu minggu pagi, kami sepakat berbelanja ke pasar kue (dekat Detos). Kami harus bangun pagi ke sana. Tumben sekali kami mau bangun pagi di hari libur. Saya teringat mama yang selalu mengingatkan bangun pagi ketika saya SD, “Kalau mau sukses berjualan itu ya Nak, harus bangun pagi seperti pedagang Cina yang rajin. Kalau bangunnya kesiangan kayak kamu terus ya pasti rugi waktu.” Kebetulan mama saya dulu pemilik toko kelontong yang laris. Waktu itu saya bandel kesiangan dan membalas, ” Aku ra wong dodol Buk!”
Tetapi minggu itu saya pedagang. Saya dan Femi begitu bersemangat untuk menjual kue. Kalau sampai keduluan sama temen lain yang jualan donat atau kue lain, bisa nggak laku. Kami berlari ke pasar lalu naik angkot ke sana. Modal kami adalah 30 ribu rupiah yang merupakan saya, femi, dan mbak Tia (kakaknya Femi) masing-masing 10 ribu. Dari uang segitu, kami bisa membeli banyak kue. Kami pun mulai memasarkan lorong-lorong di Asrama. Naik turun tangga, sambil teriak-teriak, “Kue kue, kue manis, yang beli anak manis!!”
Akhirnya kue itu terjual semua. Dan setelah dihitung-hitung kami untung kotor kalau tidak salah sekitar Rp 7.750,-. Hmm, padahal saya dan Femi sudah menghabiskan uang Rp 8000,- untuk membayar angkot bolak-balik. Tetapi tetap saja kami senyam-senyum senang. Rasanya menyenangkan berjualan walaupun rugi. Tetapi mbak Tia yang juga mahasiswa Fakultas Ekonomi kesal sekali dengan kami, “Ah males ah jualan sama anak Fasilkom. Masak anak FE, jualan malah rugi. Apa kata dunia coba? Malu-maluin.”
Setelah itu kami tidak berjualan kue lagi. Alasannya kami males bangun pagi dan memang pejuang bisnis yang tidak konsisten. Sekali wkatu saya sendiri berjualan donat dan pulsa. Berjualan pulsa pun saya bangkrut karena tidak membuat kebijakan finansial yang jelas. Saya selalu menulis catatan penjualan dengan rapi. Tetapi saya tidak memisahkan uang bisnis dan pribadi diperparah dengan pelanggan yang sering kredit macet. ^_^
Saya tidak menyesal dengan bisnis kecil-kecilan ala mahasiswa lugu yang pernah saya jalani. Setidaknya saya pernah mencoba. Saya belajar dari pengalaman yang sedikit itu. Sudahlah, pikir saya.
Hmm, akan tetapi sinar fajar seakan indah menyambut ketika saya diberitahu proposal PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) untuk kategori Kewirausahaan akan didanai dari DIKTI. Pertengahan Februari saya dapat berita itu. Wow, saya sumringah. Saya akan menjalankan sebuah bisnis.
Saya teringat bulan September tahun lalu, saya diajak gabung bang Toni (Toni Dermawan) dan Mbak Leni (Suci Lestarini) untuk membuat tim PKM. Tim kami diperkuat juga oleh teman seangkatan saya yang lain, yaitu Big (Big Zaman) dan Erwin (Erwin Nugraha). Kami akan membuat proposal tentang jasa persewaan buku. Uniknya persewaan kami bersifat online untuk wilayah Jabodetabek. Bersama orang hebat ini, saya sebenernya sekedar ikut-ikutan saja cari pengalaman.
Pada suatu kesempatan di malam bulan Ramadan, saya diajak mbak Leni dan bang Toni untuk bertemu di Fakultas. Kami ternyata akan membicarakan siapa ketua tim dan mereka berdua menunjuk saya. Spontan saya kaget, “Lho kok saya sih Mbak? Saya belum pengalamanan. Apalagi memimpin senior.”
Tetapi mereka berdua memang perayu yang lihai, hehe. Pertimbangannya saat itu saya yang paling memungkinkan menjadi ketua karena saya tidak punya kesibukan dan amanah yang jelas. Jika dibandingkan dengan mereka berempat, saya bukan siapa-siapa. Mbak Leni jelas sibuk sebagai mahasiswa tingkat akhir dan juga sibuk dengan tim PKM-nya yang lain. Bang Toni saat itu menjabat sebagai kadept suatu organisasi dan juga punya tim PKM lain. Big adalah ketua angkatan saya yang pasti punya amanah di sana-sini. Erwin juga begitu, dia serius dengan bidang robotik dan masih menjadi santri PPSDMS saat itu. Cuma saya yang mahasiswa pengangguran. Saya tidak punya suatu kesibukan sebagai alasan menolak. Akhirnya saya menjadi ketua. Betapa nervousnya saya memimpin orang-orang yang hebat. Rekam jejak saya tidak pernah mencatat saya menjadi pemimpin yang berarti. Ketua kelas belum pernah. Ketua panitia suatu kegiatan belum pernah. Ketua departemen suatu organisasi juga belum. Wah, ini tantangan.
Akhirnya saya mau jadi ketua dan mbak Leni meyakinkan saya, “Nggak apa-apa Ap! Tahun lalu yang PKM saya lolos ke PIMNAS itu ketuanya Edo (sekarang Abang Jakarta). Dia bisa.”
Yeah, ketika pengajuan proposal, hampir semua pekerjaan dihandle mbak Leni. Saya yang ngumpulin proposal bersama big dan Erwin. Gumam saya, “Wah saya tanda tangan di sini padahal saya tidak mungkin membuat proposal sebagus ini tanpa mbak Leni. Mbak Leni sudah piawai menulis rupanya. Nanti saya juga bisa.”
Dan di bulan Februari 2009, saatnya kami menjalankan proposal. Jauh lebih sulit dari mengajukan proposal, perjuangan yang berat menjalankan bisnis kami.

Posted by mishbah on July 30, 2009 at 8:02 am
gw baca ampe abis. bagus!
sangat inspiratif, dan menyejukkan hati..
april sangat tulus