lanjutan dari tulisan saya di blog
http://gendukpuro.wordpress.com/2009/07/28/aku-dan-tim-garuda-di-dadaku/
Saya begitu bersemangat di pertengahan Februari. Berita bahwa proposal PKM tim saya yang mengusung ide persewaan buku online itu akan didanai membuat saya sumringah. Soalnya kan baru kali ini ada yang mau membiayai bisnis saya hehe..Saya melirik kemampuan saya sendiri. Apa saya bisa?
Yap, saya pasti bisa. Saya orang yang berani mengambil resiko. Saya sudah sering gagal dan justru bangga karena bisa belajar dari itu. Sekalipun saya belum berpengalaman menjadi pemimpin tim tetapi saya akan mencoba. Teman-teman saya yang hebat dalam tim akan menolong saya. Memang harus percaya diri, kan?
Tapi benar kata mbak Leni, “Memang yang namanya usaha, gak semudah membolak balik tempe di wajan penggorengan.” Hmm, di awal saya memimpin, kacau sekali. Erwin (Erwin Nugraha) memutuskan unruk mengundurkan diri dari tim karena ia ingn berkonsentrasi dengan bidang robotiknya. Sedangkan mbak Leni (Suci Lestarini) masih pertukaran pelajar ke Malaysia. Tinggalah saya, Big, dan Bang Toni. Saya clingak-clinguk nggak tau apa-apa. Saya cuma bisa mengadakan rapat dan rapat. Kami bertiga berhasil membuat timeline yang selanjutnya selalu diobrak-abrik. Mbak Leni saat itu menyetujui timeline. Pembagian tugas juga sudah deal.
Sebenernya PKM kami simpel, yaitu bagaimana cara mengubah persewaan buku yang tadinya biasa (offline) menjadi online, dalam arti bisa dipinjam dari mana saja di wilayah Jabodetabek dan kapan saja. Maksudnya online, bisa memungkinkan misalnya seseorang yang tinggal Depok begitu mengeklik situs kami untuk meminjam buku, maka buku akan datang untuknya. Persewaan buku yang akan kami ubah juga sudah ada di Cipete namanya LADANGBUKU. Jumlah koleksinya sekitar 800 buku. Itu semua adalah koleksi mbak Leni dan mbak Anin (sepupunya mbak Leni). Konsep bisnisnya pun sudah dipikirkan sejak dulu. Tinggal menngubahnya menjadi LADANGBUKU.COM toh? Hehe.
Tapi kami berpikir rada rumit. Berminggu-minggu kami masih membicarakan teknis bisnis karena ada yang ingin kami ubah format pengiriman bukunya ke pelanggan. Oia, kami juga ingin mengembangkan kerja sama dengan beberapa persewaan buku lain untuk ikut menikmati sistem online kami jika sudah jadi. Kerja sama itu memungkinkan pelanggan kami meminjam buku dari persewaan buku lain apabila di koleksi kami tidak ada.
Kami menemui banyak kesulitan, tetapi kami belajar menyelesaikannya. Saya belajar tentang pentingnya komunikasi yang efektif ketika bang Toni tidak kedengeran kabarnya akibat proyek-proyeknya. Saya juga belajar mencari peluang di dalam kesulitan. Misalnya saat saya pergi ke Cipete untuk mengetahui kondisi persewaan buku yang masih menumpang di kios ATK ibundanya mbak Leni. Saya pergi ke sana seorang diri. Atas petunjuk rute mbak Leni saya ke sana. Ternyata lelah sekali. Saya harus menunggu lama untuk mendapatkan kopaja Depok-Blok M. Setelah itu saya berjalan jauh mencari angkot merah bernama KPW 01 menuju gang Asem. Si angkot merah rupanya menunggu penumpang sampai penuh dan itu membutuhkan waktu yang lama. Saya memutuskan naik ojek saja ke tujuan. Saya harus membayar sepuluh ribu untuk ojek ditambah biaya kopaja dari Depok dan masih ditambahkan uang jajan es saya. Saya juga perlu mengahabiskan banyak waktu untuk sekedar mengunjungi persewaan buku. itu semua kesulitan dan saya berpikir mencari peluang.
Bayangkan jika saya seorang customer, maksudnya saya orang yang gemar membaca. Sekalipun saya sangat suka membaca, mengunjungi persewaan buku seperti saya tidaklah efisien dan memberatkan. Saya harus mengorbankan banyak uang dan waktu, juga menghadapi cuaca panas dan macet yang menyebalkan. Akan jadi kecewa berat kalau ternyata buku yang saya minati tidak tersedia di persewaan. Mungkin lebih solitif jika kita beli buku online atau pergi ke toko buku terdekat, tetapi membeli tentu juga keluar banyak uang. Untuk sekedar membaca buku komik dan novel, saya pikir tidak perlu membeli. Perpustakaan kadang tidak menjadi alternatif ketika buku yang kita minati ialah buku populer atau jarak perpustakaan jauh. Saya pikir persewaan buku online menjadi solusi yang bagus untuk bisa menikmati buku. kami berharap masyarakat jabodetabek akan bisa menikmati itu.
Dalam pelaksanaanya saya merasa bergerak terlalu lamban karena waktu itu juga kuliahsaya keteteran. Launching diundur dari awal April jadi Juni. Juni belum siap diubah lagi. Jadinya akhir Juli. Bang Toni yang menjadi divisi IT sepertinya kesusahan membangun sistem online. Big masih setia membantu bang Toni. Kami menggunakan jasa FUKI untuk membantu memnbuat sistem web. Saya sebenernya ingin membantu, tapi apa boleh buat saya tidak mengerti. Kami juga memutuskan untuk menambah anggota tim. Hmm, siapa yang akan kami ajak berjuang? Saya merekomendasikan Femi (Famella Rahma). Dan semua menyetujui.
Menurut saya, pertimbangan utama dalam memilih anggota baru bagi saya ialah suka membaca. Kedua tidak mudah putus asa ataupun mengeluh karena perjuangan akan berat. Ketiga memang harus suka bisnis dan punya keinginan berprestasi. Femi punya kriteria itu. Saya ingat waktu liburan dia mengajak saya ke toko buku. Cukup lama di toko buku sehingga saya sudah pegal, tetapi Femi masih asyik membaca. Selain relatif lebih banyak pengetahuan (dibanding yang tidak suka baca), akan lebih senang bekerja di persewaan buku. Dia akan senang karena dia pasti bisa membaca banyak buku. Femi tidak pernah mengeluh manja. Sustu malam dia juga bilang kira-kira begini, “April, nanti kalau ada lomba-lomba, nulis kek atau PKM-PKM itu, ajakin aku ya?” Selain itu Femi cukup dekat dengan saya bahkan kamarnya bersebelahan di Asrama, jadi ini memudahkan komunikasi. Yap, jadi Femi adalah pilihan yang tepat.
Benar saja, ketika saya mengajak dia ke Cipete bersama Big, Femi terlihat senang saja. Waktu itu kami berangkat siang-siang. Cuaca sangat panas. Kami harus menunggu bis lama sekali di bawah terik mentari. Tapi Femi tidak mengeluh dan malah senyam-senyum saja. Berarti dia semangat, saya pun jadi ikut semangat. Saat itu kami memiliki Agenda mendata banyak sekali buku di Cipete.
Tetapi yang saya sadri dari Femi, dia orangnya gampang bosen. Saya sedih kalau Femi, “ya males April!” Ini menandakan dia tidak lagi semangat. Semangatnya kadang tidak konsisten seperti waktu kami jualan kue di Asrama.
“Bagaimana membuat Femi bersemangat?”
Menurut buku yang saya baca, komik Chicken Soup for the Soup, algoritma untuk mengubah dunia ialah dengan mengubah pikiran kita. Perubahan itu dimulai dari diri kita sendiri, maka dunia kan mengikuti. Hmm, jadi saya menemukan jawaban. Untuk membuat Femi bersemangat ialah dengan membuat diri saya bersemangat terlebih dahulu. Masuk akal. Bagaimana saya menuntut Femi bersemangat padahal saya sendiri nggak kosisten begini.
Bahkan ketika presentasi di depan juri PKM, Femi terlihat ceria. Big dan mbak Leni juga begitu. Dibanding tim lain, kami cenderung over PD sampai bergaya menyebutkan tagline, “Sewa Buku!!! Tinggal klik!” Aduh, malunya mengenang itu.
Walaupun sudah semangat begitu, ternyata kami tidak lolos ke PIMNAS.
Sedih? Iyalah, tapi kami tidak patah semangat. Terlalu berharga bagi kami untuk berhenti, kami terlanjur memiliki mimpi untuk membuat sesuatu yang berguna. Garuda tetap di dadaku. Memang orientasi kami bukan lagi penilaian juri, tapi penilaian customer. Biasanya kami didekte dalam hal pejadwalan ataupun segi pelaksanaan, sekarang kami bebas bergerak. Akan tetapi profesionalime menjadi taruhan kepercayaan customer. Ini menantang, jauh lebih menantang.
Recent Comments